Selamat Membaca

Keindahan selalu ada jika kita mau memperhatikan

Sabtu, 12 Mei 2012

KOMUNIKASI POLITIK


Resume Buku
Komunikasi Politik “Komunikator, Pesan, dan Media”
Pengantar: Jalaludin Rakhmat
Dan Nimmo

Judul Buku      : Komunikasi Politik “Komunikator, Pesan, dan Media”
Penulis             : Dan Nimmo
Penerbit           : Goodyear Publishing Co.
Penyunting      : Drs. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc.
Diterbitkan oleh PT REMAJA ROSDAKARYA
Tahun terbit     : Cetakan keenam, Juni 2005
KOMUNIKASI POLITIK
Komunikator, Pesan, dan Media
Komunikasi dan Politik
            Bergantung pada titik pandangnya, komunikasi adalah pengalihan informasi untuk memperoleh tanggapan; pengoordinasian makna antara seseorang dan khalayak; saling berbagi informasi, gagasan, atau sikap; saling berbagi unsur-unsur perilaku, atau modus kehidupan, melalui perangkat-perangkat aturan.
            Komunikasi bukan sekadar penerusan informasi dari suatu sumber kepada publik, ia lebih mudah dipahami sebgai penciptaan kembali gagasan informasi oleh publik jika diberikan petunjuk oleh simbol, slogan, atau tema pokok.
            Ciri utama komunikasi yaitu orang yang mengamati berbagai hal, menginterpretasikannya, menyusun makna, bertindak berdasarkan makna itu, dan kemudian mengungkapkan makna itu.
Ada tiga jenis yang diamati orang antara lain :
1.      Objek fisik, yang beranekaragam, sejak kursi, tumbuhan, dan mobil sampai keadaan cuaca,
2.      Objek sosial, baik orang lain maupun dirinya sendiri,
3.      Objek abstrak seperti gagasan, ajaran, perasaan dan keinginan.
Komunikasi adalah proses interaksi sosial yang digunakan orang utntuk menyusun makna yang merupakan citra mereka mengenai dunia (yang berdasarkan itu mereka bertindak) dan untuk bertukar citra itu melalui symbol.
Jadi, komunikasi bukanlah suatu reaksi terhadap sesuatu, juga bukan interaksi dengan sesuatu, melainkan suatu transaksi yang di dalamnya orang-orang menciptakan dan memberikan makna untuk menyadari tujuan-tujuan orang itu.
Menurut Barnlund, sifat-sifat komunikasi katanya dinamis (proses prilaku dipikirkan dari seorang penafsir), sinambung (tidak ada sesuatu, bahkan tindakan yang tersendiripun selain kondisi kehidupan yang sinambung tanpa awal dan akhir), sirkular (tidak ada urutan yang linear dalam arus makna dari seseorang kepada orang lain), tak dapat diulang (penciptaan kembali makna yang sinambung itu melibatkan perubahan citra personal terhadap masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang), tak dapat dibalikkan (berkembang dengan cara yang membuat suatu pesan yang telah diucapkan dan diinterpretasikan tidak dapat diambil kembali dari ingatan penerimanya), kompleks (berlangsung dalam banyak konteks yang berlainan dan pada banyak tingkatan).
Harold Lasswell, politik adalah siapa, memperoleh apa, kapan, dan bagaimana. Politik adalah pengaruh, tindakan yang diarahkan untuk mempertahankan dan atau memperluas tindakan lainnya. Politik hanyalah untuk mengartikan kegiatan orang secara kolektif yang mengatur perbuatan mereka  di dalam kondisi politik sosial.
Ilmuwan politik Mark Roelofs mengatakan Politik adalah pembicaraan atau lebih tepat, kegiatan politik (‘berpolitik’) adalah berbicara. Ia menekankan bahwa politik itu hanya pembicaraan, juga tidak semua pembicaraan adalah politik. Akan tetapi, ”hakikat pengalaman politik, dan bukan hanya kondisi dasarnya, ialah bahwa ia adalah kegiatan berkomunikasi antara orang-orang. Komunikasi meliputi politik, anggapan dasar buku ini ialah bahwa banyak aspek kehidupan politik dapat dilukiskan sebagai komunikasi.
Komunikasi politik yaitu kegiatan komunikasi yang dianggap komunikasi politik berdasarkan konsekuensi-konsekuensinya (aktual maupun potensial) yang mengatur perbuatan manusia di dalam kondisi-kondisi konflik.
James Bryce, Opini publik adalah kumpulan pendapat orang mengenai hal ihwal yang mempengaruhi atau menarik minat komunitas. A.V.Dicey, opini publik adalah cara singkat untuk melukiskan kepercayaan atau keyakinan yang berlaku di masyarakat tertentu bahwa hukum-hukum tertentu bermanfaat. Opini ialah tindakan mengungkapkan apa yang dipercayai, dinilai, dan diharapkan seseorang dari objek-objek situasi tertentu. Tindakan ini bisa merupakan pemberian suara, pernyataan verbal, dokumen tertulis, atau bahkan singkatnya tindakan apapun yang bermakna.
Proses opini adalah hubungan atau kaitan antara : 1. Kepercayaan, nilai, dan usul yang dikemukakan oleh perseorangan dimuka di depan umum, 2. Kebijakan yang dibuat oleh penjabat terpilih dalam mengatur perbuatan sosial dalam situasi konflik. Proses opini ada 3 tahap : 1. Kontruksi personal, tahap di mana individu mengamati segala sesuatu, menginterpretasikannya, dan menyusun makna objek-objek politik secara sendiri-sendiri dan subjektif. 2. Kontruksi sosial, tahap menyatakan opini pribadi di depan umum. 3. Kontruksi politik, tahap yang menghubungkan opini publik, opini rakyat, dan opini massa dengan kegiatan para pejabat publik (eksekutif, legislator, dan hakim) yang sama-sama bertanggung jawab atas pemrakarsaan, perumusan, penerimaan, penerapan, penginterpretasian, dan penilaian kebijakan-kebijakan.
Pada tahun 1948 ilmuwan politik Harold Lasswell mengemukakan bahwa cara yang mudah untuk melukiskan suatu tindakan komunikasi ialah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan : siapa?, mengatakan apa?, dengan saluran apa?, kepada siapa?, dengan akibat apa?. Hal itu mengidentifikasi unsur-unsur yang biasa terdapat pada semua komunikasi : sebuah sumber dan penerima, pesan, media komunikasi, dan tanggapan. Bila kita menggunakan rumus Lasswell, maka kita harus ingat bahwa proses komunikasi itu tidak linear, tetapi sirkular.
Pemimpin dan Opini Publik
            Salah satu ciri komunikasi ialah bahwa orang jarang dapat menghindari dari keturutsertaan. Siapapun yang dalam setting politik adalah komunikator politik. Sosiolog J.D. Halloran, seorang pengamat komunikasi massa yang tercermat, telah mengeluh bahwa banyak studi komunikasi mengabaikan satu karakteristik proses yang penting, yaitu bahwa komunikasi terjadi di dalam suatu matriks sosial. Situasi tempat komunikasi bermula, berkembang, dan berlangsung menerus adalah situasi sosial : hubungan antara komunikator dan khalayak adalah bagian integral dari sistem sosial ini. Komunikator massa berlaku juga bagi komunikator politik. Komunikator politik ini memainkan peran sosial yang utama, terutama dalam proses opini publik. Leonard W. Doob, komunikator atau para komunikator harus diidentifikasi dan kedudukan mereka di dalam masyarakat harus ditetapkan, diidentifikasikan tiga kategori : 1. Politikus yang bertindak sebagai komunikator politik, 2. Komunikator professional dalam politik, 3. Aktivis atau komunikator paruh waktu (part-time).
            Daniel Katz menunjukkan bahwa pemimpin politik mengerahkan pengaruhnya ke dua arah : “mempengaruhi alokasi ganjaran dan mengubah struktur sosial yang ada atau mencegah perubahan demikian”. Dalam kewenangannya yang pertama politikus itu berkomunikasi sebagai wakil suatu kelimpok atau langganan; pesan-pesan politikus itu mengajukan dan atau melindungi tujuan kepentingan politik; artinya, komunikator politik mewakili kepentingan kelompok. Politikus yang bertindak sebagai ideologi tidak begitu terpusat perhatiannya kepada mendesakkan tuntutan seorang langganan; ia lebih menyibukkan dirinya untuk menetapkan tujuan kebijakan yang lebih luas, mengusahakan reformasi, dan bahkan mendukung perubahan revolusioner. Ideolog itu terutama berkomunikasi untuk membelokkan mereka kepada suatu tujuan, bukan mewakili kepentingan mereka dalam gelanggang tawar-menawar dan mencari kompromi. Kats membedakan wakil praktisi dan ideologi tetapi bila dipandang sebagai komunikator politik, perbedaan itu hanya dalam derajatnya, bukan dalam jenisnya. Kedua tipe politikus itu mempengaruhi orang lain, yakni mereka bertindak dengan tujuan mempengaruhi opini orang lain. Politikus utama yang bertindak sebagai komunikator politik adalah para pejabat pemerintah, baik yang dipilih maupun yang diangkat, yang secara tetap berkomunikasi mengenai sejumlah besar masalah, subjek, dan materi politik yang beraneka ragam. Jenis politikus yang bertindak sebagai komunikator politik, sama dengan banyaknya politikus, tetapi untuk mudahnya kita klasifikasikan mereka sebagai : 1. Di dalam atau di luar jabatan pemerintah, 2. Berpandangan nasional atau subnasional, dan 3. Berurusan dengan masalah berganda atau masalah tunggal.
            Komunikator profesional adalah peranan sosial yang relatif baru, suatu hasil sampingan dari revolusi komunikasi yang sedikitnya mempunyai dua dimensi utama : 1. Munculnya media massa yang memintasi batas-batas rasial, etnis, pekerjaan, wilayah dan kelas untuk meningkatkan kesadarang identitas nasional, 2. Perkembangan serta-merta media khusus (seperti majalah untuk khalayak khusus, stasiun radio, dsb.) yang menciptakan publik baru untuk menjadi konsumen informasi dan hiburan. James Carey, seorang komunikator profesional adalah seorang makelar simbol, orang yang menerjemahkan sikap, pengetahuan, dan minat suatu komunitas bahasa ke dalam istilah-istilah komunitas bahasa yang lain yang berbeda tetapi menarik dan dapat dimengerti. Maka komunikator profesional adalah manipulator dan makelar symbol yang menghubungkan para pemimpin satu sama lain dan dengan para pengikut. Satu perangkat profesional mencakup para jurnalis, yang lain meliputi para promoter. Jurnalis sebagai siapa pun yang berkaitan dengan media berita dalam pengumpulan, persiapan, penyajian, dan penyerahan laporan mengenai peristiwa-peristiwa. Promotor adalah orang yang dibayar untuk mengajukan kepentingan langganan tertentu.
            Unsur dasar dalam jaringan komunikasi politikus adalah aparat formal pemerintah, ia menduduki atau bercita-cita menduduki suatu posisi dalam jaringan itu. Dua tipe komunikator politik : 1. Terdapat jurubicara bagi kepentingan yang terorganisasi, 2. Jaringan interpersonal mencakup komunikator politik utama, yakni pemuka pendapat. Siapakah komunikator politik utama, tiga macam yang terpenting yaitu politikus, profesional, dan aktivis.
            Kepemimpinan adalah seperangkat fungsi kelompok yang harus terjadi di dalam setiap kelompok jika kelompok itu harus berprilaku secara efektif untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan para anggotanya. Katz, kepemimpinan adalah proses ketika seorang individu secara konsisten menimbulkan lebih banyak pengaruh daripada orang lain dalam melaksanakan fungsi-fungsi kelompok. James N. Rosenau, pemimpin adalah anggota masyarakat yang menduduki posisi yang membuatnya bisa, dengan agak tetap, menyampaikan opini tentang masalah-masalah kepada orang-orang yang tidak dikenal. Ralph M. Stogdill, kepemimpinan melibatkan proses kelompok, pengaruh kepribadian, seni meminta kerelaan, penggunaan pengaruh, persuasi, pencapaian tujuan, interaksi, peran-peran yang diperbedakan, dan pembentukan struktur dalam kelompok-kelompok. Teori mengenai kepemimpinan ada empat : 1. Pemimpin berbeda dari massa rakyat karena mereka memiliki cirri atau sifat tersendiri yang sangat dihargai, 2. Teori Konstelasi Sifat, pemimpin memiliki sifat sama dengan yang dimiliki siapapun, tetapi memadukan sifat-sifat ini dalam suatu sindrom kepemimpinan yang membedakannya dari orang lain. 3. Teori Situasionalis, berpendapat bahwa waktu, tempat, dan keadaan menentukan siapa yang memimpin, siapa pengikut, 4. Kepemimpinan merefleksikan interaksi kepribadian para pemimpin dengan kebutuhan dan pengharapan para pengikut, karakteristik dan tugas kelompoknya, dan situasi. Jadi sistem peran dan struktur status suatu kelompok ditetapkan oleh seperangkat pengharapan antaranggota yang diperkuat bersama.
            Peran komunikasi politik sebagai pemimpin yang perlu mendapatkan perhatian antara lain: 1. Sikap rangkap dua kepemimpinan politik, 2. Tipe pemimpin, 3. Ikatan antara pemimpin dan pengikut, 4. Ciri-ciri pemimpin politik, 5. Persepsi rakyat terhadap pemimpin politik, 6. Perekrutan pemimpin-pemimpin dalam politik.
            Lewis Froman, kecendrungan yang membedakan pemimpin dan bukan pemimpin di dalam kelompok : 1. Pemimpin memperoleh kepuasan yang lebih beragam karena menjadi anggota kelompok, 2. Lebih kuat dalam memegang nilai-nilai mereka, 3. Memiliki kepercayaan yang lebih besar tentang kelompok itu dan hubungan dengan kelompok lain, pemerintah, masalah politik, dan sebagainya, 4. Kurang kemungkinannya untuk berubah kepercayaan, nilai, dan pengharapannya karena tekanan yang diberikan kepadanya, 5. Lebih mungkin membuat keputusan mengenai kelompok berdasarkan kepercayaan, nilai dan pengharapan sebelumnya, 6.Lebih berorientasi kepada masalah, terutama mengenai masalah yang menyangkut perolehan material, alih-alih kepuasan yang kurang nyata atau pertanyaan yang penuh emosi.
            Bagi komunikator politik, untuk menjadi pemimpin politik ia harus berperilaku sebagaimana yang diharapkan orang dari pemimpin, pengikut mengaitkan kepemimpnan dengan orang yang sesuai dengan pengertian mereka tentang apa pemjimpin itu. Komunikator politik yang merupakan pemimpin karena arti yang ditemuka orang didalam dirinya sebagai manusia, kepribadian, tokoh yang ternama,dan sebagainya, kita beri nama pemimpin simbolik. Sebagian besar politikus, komunikator profesional, dan aktivis politik adalah pemimpin organisasi. Komunikator professional sering merupakan karyawan organisasi yaitu wartawan yang bekerja pada pelayanan kawat, koran, jaringan televisi, atau organisasi berita lain dan promotor sebagai anggota organisasi memublikasikan kepentingan perusahaan, jawatan pemerintah, kandidat atau partai politik. Jurubicara sebagai komunikator aktivis adalah hampir secara harfiah, pembela organisasi. Komunikasi terorganisasi memberikan peluang kepada kepemimpinan yang sinambung, kepemimpinan berdasarkan kemampuan komunikator memprakirakan dengan tepat kesukaan dan ketidaksukaan para pengikut, dan dengan demikian reaksi yang mungkin diberikan oleh mereka terhadap tindakan pemimpin. Komunikasi di dalam setting yang terorganisasi menyajikan arus yang dapat di prakirakan dari informasi yang akurat tentang kesukaan dan ketaksukaan pengikut yang kepadanya pemimpin dapat menyesuaikan diri.
Sosiolog Orrin Klapp, “Kepemimpinan simbolik bekerja pada massa dan khalayak sebelum, tanpa, dan tidak dapat dihalangi oleh organisasi”. Kepemimpinan simbolik menyoroti tindakan saling mempengaruhi yang penting diantara apa yang oleh para pengikut diharapkan menurut citra mereka tentang pemimpin, dan kesan yang diusahakan ditinggalkan pada para pengikut oleh pemimpin yang bercita-cita tinggi.
Ikatan komunikasi di antara pemimpin dan pengikut
            Kepemimpinan dan kepengikutan adalah cara komplenter untuk meninjau suatu transaksi tunggal : kita tidak dapat membayangkan pemimpin tanpa pengikut, begitu pula pengikut tanpa pemimpin. Robert Salisbury ada tiga keuntungan utama yang diperoleh pengikut dari transaksi kepemimpinan-kepengikutan : 1. Keuntungan material, yang terdiri atas ganjaran berupa barang dan jasa, 2. Keuntungan solidaritas, mencakup ganjaran sosial atau hanya bergabung dengan orang lain dalam kegiatan bersama, 3. Keuntungan ekspresif, keuntungan ketika tindakan yang bersangkutan mengungkapkan kepentingan atau nilai seseorang atau kelompok, bukan secara intrumental mengejar kepentingan atau nilai.
Citra rakyat tentang komunikator politik dan pemimpin politik
            Kebanyakan politikus mendapatkan kesulitan besar untuk bisa dikenal, bahkan untuk mencapai citra. Citra tentang komunikator professional petunjuk dalam hal ini relative sedikit. Apa yang ada terutama mengenai jurnalis, bukan promotor, dan di dalamnya yang ditonjolkan adalah bentuk media, bukan perseorangan. Survei menunjukan bahwa media yang paling sering digunakan untuk berita politik adalah televisi, Koran, radio, dan majalah. Citra publik tentang media yang paling banyak digunakan dan dipercaya,yakni televisi dan pers, tidak sejelas merosotnya seperti esekutif, kongres, dan pengadilan.
            Secara keseluruhan, orang-orang yang memegang pimpinan tidak mewakili keanekaragaman sosial yang menandai populasi umum. Politikus yang tidak mempunyai jabatan dalam pemerintahan juga berbeda dari kebanyakan warga Negara. Karakteristik sosial pata komunikator profesional hampir tidak lebih mewakili populasi umum ketimbang para politikus. Karakteristik sosial pemimpin politik berbeda dari populasi umum : 1. Tingkat keterlibatan politik, 2. Kepercayaan politik, 3. Nilai, 4. Pengharapan serta pengaruhnya terhadap pembuatan kebijakan.
            Kenneth Prewitt menyamakan proses pemilihan pemimpin politik dengan teka-teki kotak cina. Teka-teki itu terdiri atas beberapa kotak dengan berbagai ukuran. Dalam hal kepemimpinan, kotak yang terbesar berisi semua orang dalam populasi, yang terkecil pemimpin-pemimpin yang memerintah. Sebagai alat untuk memilih yang sedikit, yaitu yang memeintah, diantara yang banyak, kepemimpinan benar-benar selektif. Pemilihan berlangsung dalam banyak tahap. Tahap pertama memilih yang memenuhi syarat diantara populasi umum, yaitu semua orang yang disahkan oleh hukum untuk ambil bagian dalam politik dan untuk memegang jabatan. Tahapan kedua, untuk memilih yang mampu atau orang-orang yang memiliki sumber daya yang diperlukan terutama sumber daya sosial dan ekonomi, untuk melibatkan diri dan politik. Tahap ketiga, menyangkut pemasukan sebagian dari jumlah yang mampu ke dalam politik, yakni pemilihan partisipan politik.
Ketakpastian dalam peran komunikator politik kontemporer
            Sifat komunikator politik sebagai pemimpin politik: 1. Sebagai pemimpin tugas dan emosi, 2. Sebagai pemimpin organisasi dan simbolik, 3. Ikatan yang menyatukan mereka dengan pengikut, 4. Citra, 5. Karakteristik sosial, 6. Pemilihan. Tiga bidang ketakpastian dalam kegiatan komunikator politik : 1. Masalah profesionalisme, 2. Karakteristik para komunikator, 3. Peran dan motif komunikator
            Dalam politik banyak pembicaraan, begitu banyak sehingga seolah-olah pembicaraan adalah politik. Pengadilan pun adalah gelanggang pembicaraan. Melimpahnya wacana politik  bukanlah satu-satunya penyebab politik dikira sama dengan pembicaraan. Pembicaraan mencakup jauh lebih banyak daripada kegiatan verbal lisan atau tertulis. Negosasi politik bertujuan mencapai pengertian bersama di antara pihak-pihak tentang apa makna syarat-syarat persetujuan yang diterima. Pembicaraan kekuasaan mempengaruhi orang lain dengan ancaman atau janji. Politik adalah pembicaraan tentang kekuasaan, pengaruh,atau autoritas. Ia juga merupakan pembicaraan tentang konflik. Melalui pembicaraan, para komunikator politik menyeselaikan perselisihan-perselisihan mereka dengan menyusun perbendaharaan kata tentang asumsi, makna, pengharapan dan komitmen bersama. Tuntutan bahwa pembicara yang menpunyai kepentingan politik kita kualifikasi dalam dua hal : 1. Meskipun pembicaraan politik itu penting dalam kehidupan masyarakat, dalam percakapan sehari-hari relative sedikit yang mengenai politik. 2. Dalam menekankan betapa pentingnya pembicaraan bagi politik, kita tidak boleh mengabaikan bahwa politik itu penting bagi pembicaraan. Dengan menganggap politik sebagai pembicaraan, kita kita beragumentasi bahwa segala pembicaraan adalah pembicaraan politik, karena jelas bukan. Namun, pembicaraan politik adalah pembicaraan untuk memelihara dan membantu pembicaraan mengenai masalah ini. Secara khan ia adalah pembicaraan yang melibatkan kekuasaan, pengaruh, autoritas, dan konflik, percakapan dengan perbendaharaan kata yang terus-menerus berkembang dan yang kita ingin menelaahnya secara lebih rinci.
            Jenis lambang signifikan dalam politik telah berkembang. Ada yang menyangkut pembicaran autoritas, mereka melambangkan saling pengertian yang patut diagungkan dan dipatuhi orang apa yang diwakili mereka : konstitusi, hukum, traktat, dan sebagainya.Yang lain melambangkan pembicaraan kekuasaan. Sebagian besar dari lambang signifikan adalah pembicaraan pengaruh : mimbar parta, slogan, pidato, editorial, dan sebagainya. Lambang referensial menunjukkan kategori-kategori khusus atau umum dari objek-objek, apakah itu objek-objek fisik, sosial, atau abstrak. Dengan demikian maka kegiatan simbolik terdiri atas orang-orang yang menyusun makna dan tanggapan bersama terhadap perwujudan lambang-lambang referensial dan kodensasi dalam bentuk kata-kata, gambar, dan perilaku.
            Lambang adalah kata-kata dari pembicaraan politik, maka bahasa adalah permainan kata dari wacana itu. Sarjana linguistic lebih menyukai definisi teknis bahasa daripada hanya mengacu kepadanya sebagai permainan kata. Fungsi-fungsi utama bahasa : 1. Penghindaran kegiatan yang lebih buruk, 2. Norma persesuaian. 3. Estetika, 4. Peraturan pertemuan, 5. Performatif, 6. Peraturan diri, 7. Peraturan orang lain, 8. Ungkapan emosi, 9. Ungkapan identitas sosial, 10. Ciri hubungan peran, 11. Pengacuan kepada dunia nonlinguistik, 12. Pengajaran, 13. Penyelidikan. Bahasa verbal adalah diskurtif, yaitu lambang-lambang yang menyusunnya membantu kita berpikir cermat, membuat pernyataan harfiah, dan merekam informasi.
            Semiotika membahas keragaman bahasa dari tiga perspektif: semantika, yakni studi tentang makna; sintaktika, yang berurusan dengan kaidah dan struktur yang menghubungkan tanda-tanda satu sama lain; dan pragmatika, yakni analisis penggunaan dan akibat permainan kata. Semantika adalah studi tentang makna yang dimiliki objek bagi orang yang berpikir dan menanggapi, dan bukan pencarian definisi kata yang intrinsik dan universal atau hakikat objek yang bernama demikian. Pembicaraan politik itu merundingkan kepercayaan, nilai, dan pengharapan bersama dalam situasi-situasi konflik simantik, seperti setiap pembicaraan, ia pun dapat menimbulkan kesimpangsiuran semantic. Tipe kesimpangsiuran simentik dalam politik sama dengan dalam setiap jenis wacana : 1. Masalah yang ditimbulkan oleh kekeliruan verba transitif, 2. Menggunakan kata atau lambang linguistik yang lain seakan-akan ia adalah objek yang diwakilinya. Kesimpangsiuran semantik yang lain lagi, yang disebutnya reaksi identifikasi. Bila orang menanggapi lambang dengan cara yang tetap, ia mempersamakan semua objek yang sangat berbeda, hanya karena memiliki nama tertentu yang identik.
            Suatu sintaksis wacana politik harus memiliki dua aturan dasar jika pembicaraan politik benar-benar pembicaraan yang menjamin pembicaraan. Yang pertama Miller dan McNeill disebut “aturan imperative kategoris dari setiap permainan yakni bahwa Anda boleh melakukan gerakan apapun yang Anda akan memperbolehkan pemain lain melakukannya dalam keadaan yang serupa”. Kedua, harus ada pengertian bahwa semua aturan sintaksis politik yang lain tunduk kepada yang pertama dank arena itu selalu dapat didebat, terbuka terhadap renegosiasi dan revisi.
            Pembicaraan politik adalah suatu wacana dinamik dari kekuasaan, pengaruh, dan kewenangan yang mendamaikan pertikaian melalui kegiatan simbolik. Akan tetapi, makna istilah-istilah politik sendiri adalah pokok pertikaian. Pembicaraan politik menyelesaikan konflik sosial dengan negosiasikan definisi makna kata-kata yang dipeselisihkan dan aturan permainan kata (sintaktika). Kelompok-kelompok pemerintah dan swasta membuat struktur dan swasta membuat struktur dan membatasi pembicaraan politik demi kebaikan kepentingan-kepentingan khusus. Dua cara pokok : 1. Jaminan, para pemimpin politik menggunakan simbol-simbol untuk memberikan jaminan kepada rakyat bahwa masalah sedang diatasi, walaupun sebetulnya relative kecil yang telah dicapai oleh kebijakan yang berlaku. 2. Penggerak, bentuk bahasa, kebijakan, lembaga, dan tindakan para pemimpin politik melaksanakan fungsi kedua, yaitu melayani kepentingan pemerintah dan swasta dengan selubung jaminan publik. Mitos dan rutual adalah dua bentuk bahasa yang sangat penting dalam menggerakkan publik.
            Stokely Carmichael beropini bahwa menguasai rakyat adalah hal mereka yang mampu menetapkan makna segala sesuatu. Meskipun kelompok-kelompok politik berbicara untuk memperoleh ganjaran material, banyak kepentingan yang kurang berminat untuk memperoleh kepentingan material tertentu dibandingkan dengan minat mereka untuk memperoleh status yang berkuasa di dalam tatanan sosial. Mereka menggunakan lambang politik tidak hanya untuk membagikan barang-barang material, tetapi juga untuk membagikan autoritas. Eufemisme, puffery, metafora, mitos, dan ritual menetapkan penempatan yang inferior dalam kehidupan dan menyakinkan para kawula sosial bahwa mereka mendapat keuntungan dari status mereka sebagai bawahan meskipun uraian yang faktual tentang kondisinya menunjukkan hal yang berlawanan. Labeling adalah salah satu bentuk seperti itu. Ia mirip eufemisme, tetapi ada perbedaan yang menonjol. Asosiasi adalah turunan bahasa yang lain yang kaya akan kemungkinan untuk menetapkan hubungan atasan-bawahan. Kata asosiasi merupakan penyamaan sebuah kata yang menunjukan sifat-sifat negatif dan positif dengan orang, kelas, atau perangkat tindakan.
               Para komunikator politik yang mengejar materi pribadi yang melayani diri sendiri dan mengejar keuntungan status menggunakan symbol-simbol untuk membuat rakyat bertindak dengan cara tertentu. Lambang politik adalah alat untuk tujuan material dan sosial; lambang itu sendiri bukan tujuan. Pembicaraan yang ekspresif adalah wacana yang menyingkapkan identitas politik. Garis pemisah di antara pembicaraan politik tentang perolehan material atau sosial dan wacana politik ekspresif ialah bila orang menerima kepuasan simbolik murni dari pembicaraan yakni mereka memperoleh lebih banyak kepuasan dari merenungkan dan mengungkapkan lamang politik ketimbang dari berbuat sesuai dengan apa yang diwakili lambang itu.
            Pembicaraan politik dapat dan memang digunakan untuk member informasi, untuk menyingkapkan siapa yang mencari keuntungan dari pembagian material, menantang aturotias dan statusquo, dan merangsang partisipasi rakyat melebihi perilaku ekspresif. Mueller membicarakan tiga tipe penyimpangan (distrosi) : 1. Komunikasi terarah, 2. Komunikasi tertahan, 3. Komunikasi politik itu terkekang.
Pembicaraan politik dan citra politik
            Politik adalah kegiatan simbolik yang menyentuh sejumlah besar orang karena orang-orang menemukan makna dalam penggunaan lambang, pembuatan lambang, dan penyalahgunaan lambang pada komunikator politik. Melalui politik pemerintah menetapkan dan mendekritkan sebagian dari moral publik. Akan tetapi bentuk-bentuk masyarakat politiknya yang khas (lembaga eksekutif, ligislatif, atau yudikatifnya, partisan dan organisasi kepentingan, peraturan umum dan prosedur) tidak diberikan didalam alam. Akan tetapi, itu semua adalah temuan, alat, atau penolong yang membentuk kita untuk memperoleh penyesuaian dari perbedaan-perbedaan sosial kita.
            George Gordon, yang telah lama meneliti proses ini, menulis bahwa tindakan pertama manusia dalam persuasi tertulis dalam kejadian. Selama berabad-abad persuasi merasuki sejarah kegiatan dan prestasi manusia meskipun dengan nama yang bermacam-macam. Definisi persuasi “ mengubah sikap dan perilaku orang yang menggunakan kata-kata lisan dan tertulis,” menanamkan opini baru, dan usaha yang disadari untuk mengubah sikap, kepercayaan, atau perilaku orang melalui transmisi pesan. Tidak ada satupun karakteristik yang memisahkan persuasi dari cara wacana yang lain. Namun jika digabungkan semuanya memberikan pemahaman tentang sifat proses : 1. Persuasi biasanya melibatkan tujuan, suatu usaha komunikator untuk mencapai tujuan melalui pembicaraan. Persuasi adalah komunikasi yang bertujuan atau berkepentingan. 2. Persuasi itu dialektis. Dalam kedua cara ini terjadi pertukaran lambang diantara (para) komunikator dan khalayak, melibatkan seluruh peserta dalam pengubahan kembali citra secara kolektif melalui proses gabungan yang menyuarakan dan mendengarkan imbauan. Maka persuasi adalah suatu proses timbal balik yang di dalamnya komunikator, dengan sengaja atau tidak, menimbulkan perasaan responsive pada orang lain..
            Tiga cara utama berpikir tentang persuasi : propaganda, periklanan, retorik. Semuanya bertujuan (purposive), disengaja (intensional), dan melibatkan pengaruh. Masyarakat masa depan ini merupakan masyarakat propaganda total yaitu : 1. Komunikasi satu-kepada-banyak, 2. Beroperasi terhadap orang-orang yang mengidentifikasi diri mereka sebagai anggota kelompok, 3. Sebagai mekanisme kontrol sosial dengan menggunakan persuasi untuk mencapai ketertiban. Jacques Ellul, seorang sosiolog, dan filosof prancis, merangkum propaganda sebagai komunikasi yang “ digunakan oleh suatu kelompok terorganisasi yang ingin menciptakan partisipasi aktif atau pasif dalam tindakan-tindakan suatu massa yang terdiri atas individu-individu, dipersatukan secara psikologis melalui manipulasi psikologis dan digabungkan di dalam suatu organisasi.
            Propagandis adalah seseorang atau sekelompok kecil yang menjangkau khalayak kolektif yang lebih besar. Banyak contoh tentang sifat satu-kepada-banyak dari propaganda politik. Para pembicara keliling pada masa lampau berpidato di depan kumpulan para partisan mereka. Melalui manipulasi lambang, propagandis mencapai individu-individu sebagai anggota-anggota kelompok. Propagandis adalah seorang teknikus kontrol sosial, alasan bahwa tatanan sosial dihasilkan oleh orang-orang yang secara sinambung belajar dan memperkuat kesetiaan politik, kepercayaan religious, pandangan sosial, kebiasaan, kaidah-kaidah, dan suatu cara hidup yang mendasar yang sama pada orang-orang tersebut.
            Tipe propaganda  menurut Jacques Ellul, memmbedaka propaganda vertical dan propaganda horizontal. Yang pertama adalah satu-kepada-banyak dan terutama mengandalkan media massa bagi penyebaran imbauannya. Propaganda horizontal bekerja lebih di antara keanggotaan kelompok ketimbang dari pemimpin kepada kelompok, lebih banyak melalui komunikasi interpersonal dan komunikasi organisasi ketimbnag melalui komunikasi massa.
            Pengaruh komunikator terhadap keberhasilan usaha persuasif : 1. Status komunikator, 2. Kredibilitas komunikator, 3. Daya tarik komunikator. Dua prinsip umum : 1. Propagandis itu menekankan sifat-sifat komunikator dalam merumuskan kampanye, 2. Hubungan yang dilukiskan tidak selamanya konsisten. Berbagai pesan propagandis berhubungan dengan keefektifannya : 1. Isi pesan, 2. Struktur pesan. Memikirkan kampanye dengan media penuh, ada tiga pertimbangan yang paling penting : 1. Media apa yang digunakan orang? 2. Media apa yang dipercaya orang? 3. Media mana untuk apa?
            Publik menurut Blumer, mengacu kepada sekelompok orang yang : a). Berhadapan dengan suatu masalah, b). Dibagi menurut bagaimana mereka menghadapai masalah, c). Mengemukakan perbedaan-perbedaannya melalui diskusi. Periklanan bekerja dengan cara yang berbeda : 1. Sasarannya bukan individu di dalam suatu kelompok, melainkan individu yang independen, merdeka, terpisah dari kelompoknya, 2. Tujuan membuat sasaran itu bukan untuk mengidentifikasi individu dengan kelompok, melainkan untuk menarik perhatian orang daripadanya, agar orang itu bertindak dan memilih tersendiri dari yang lain.
            Tipe-tipe periklanan : 1. Periklanan komersial, yang bagi kita tidak memiliki kepentingan langsung meliputi periklanan konsumen dan periklanan perusahaan, 2. Periklanan nonkomersial  dilakukan oleh kelompok-kelompok amal, epemrintah, kelompok politik, dan para kandidat politik. 3. Periklanan institusional berusaha mempromosikan reputasi sebuah industry, badan usaha, bisnis, bisnis,  atau kegiatan komersial lainnya. Pertanyaan yang harus dijawab oleh pengiklanan politik dalam merumuskan kampanye : 1. Apa yang memotivasi khalayak? 2. Apa karakteristik kepribadian dan sosial khalayak?
            Tiga jenis pesan mempengaruhi individu: 1. Dengan menggunakan pesan-pesan direktif, para komunikator berusaha mengubah kepercayaan, nilai, pengharapan, dan perilaku orang, 2. Pesan-pesan yang memelihara mempertahankan padangan orang, pesan tidak mengubah atau mengalihkan, tetapi memperkuat, 3. Pesan-pesan restoratif mengimbau rasa individualitas orang, mengarahkan perhatian, dan mengikatkan orang tidak hanya kepada satu gagasan, tetapi kepada seperangkat kemungkinan, serangkaian pilihan yang dapat dipilih dengan bebas dan spontan.
            Retorika adalah komunikasi dua raha, satu-kepada-satu, dalam arti bahwa satu atau lebih orang masing-masing berusaha dengan sadar untuk mempengaruhi pandangan satu sama lain melalui yindakan timbale balik satu sama lain. Tipe retorika ada tiga cara pokok : 1. Deliberatif, mempengaruhi orang dalam masalah kebijakan pemerintah, 2. Forensik adalah yuridis berfokus pada masa lalu untuk menunjukkan bersalah atau tidak bersalah, 3. Demonstratif adalah epideiktik, wacana yang memuji dan menjatuhkan. Gaya retoris untuk mengungkapkan imabauan-imbauan khusus : 1. Ekshortif, 2. Legal, 3. Birokratis, 4. Tawar-menawar, 5. Tertutup/terbuka.
            Saluran komunikasi adalah alat serta sarana yang memudahkan penyampaian pesan. Kenneth Burke, saluran adalah  ciptaan makhluk pemakai lambang untuk melancarkan saling tukar pesan. Saluran komunikasi itu lebih daripada sekadar titik sambung, tetapi terdiri atas pengertian bersama tentang siapa dapat berbicara kepada siapa, mengenai apa, dalam keadaan bagaimana, sejauh mana dapatnya dipercaya.
            Ada dua bentuk saluran komunikasi massa : 1. Komunikasi tatap muka, 2. Terjadi jika ada perantara ditempatkan diantara komunikator dan khalayak. Saluran komunikasi interpersonal merupakan bentukan dari hubungan satu-kepada-satu. Saluran ini pun bisa berbentuk tatap muka maupun berperantara.
Komunikasi organisasi menggabungkan penyampaian satu-kepada-satu dan satu-kepada-banyak. Dalam pengembangan teori tentang dampak sosial komunikasi massa, Innis berfokus pada dua saluran komunikasi utama, yaitu komunikasi lisan dan komunikasi tertulis. Budaya lisan diatur oleh tradisi, budaya tertulis menunjukan penyebaran pesan yang lebih jauh lebih cepat dan lebih luas.
            Rencana kampanye mencakup empat segi untuk melaksanakan maksud idea yang melandasinya : 1. Ada formasi awal dari organisasi kampanye, 2. Melakukan riset untuk mendapat informasi yang diperlukan mengenai masalah yang dikemukakan, pemilih, dan oposisi, dan bagaimana menyampaikan pesan kandidat. Kampanye pada tingkat interpersonal melibatkan baik komunikasi tatap muka maupun komunikasi berperantara. Hubungan tatap muka terdiri atas tiga jenis ; 1. Penampilan pribadi yang dilakukan oleh kandidat dalam setting yang relative informal, 2. Kampanye melalui kebaikan kantor pemuka pendapat, 3. Orang-orang yang sukarela melakukan anjangsono selama kampanye, mereka mengunjungi setiap rumah di setiap seksi untuk kepentingan kandidat.
            Berita ialah beralih dari apa yang dikatakan dan dilakukan oleh wartawan dan melukiskan berita seperti yang didiktekan oleh organisasi berita melibatkan dua pertimbangan : 1. Bahwa berita ialah apa yang dimungkinkan oleh ekonomi bisnis berita dan posisi bersaing organisasi berita di dalamnya. Jadi, berita ialah apa yang membuat surat kabar dibeli orang, yang menaikan penilaian khalayak terhadap siaran berita, dan menghasilkan pendapatan periklanan. 2. Pertimbangan kedua yang bersangkutan dengan masalah teknologi.
            Berita mencakup simbolisasi : 1. Kejadian sebagai peristiwa, 2. Peristiwa sebagai bernilai berita melalui berita melalui berita dan kisah berita. 3.  Peristiwa yang bernilai berita melalui berita dan kisah berita. Kejadian adalah segala sesuatu yang berlangsung di dunia, baik kita mengetahuinya maupun tidak. Molotch dan Lester mengklasifikasikan kisah berita ke dalam empat tipe : 1. Cerita rutin sebagai peristiwa yang menjadi berita terutama karena orang yang terlibat dalam kejadian itu mengangkatnya menjadi berita, 2. Kecelakaan, yaitu laporan tentang kejadian yang tak disengaja, 3. Skandal, yaitu kejadian yang melibatkan tujuan, tetapi laporannya tidak diangkat menjadi peristiwa karena mereka yang terlibat, 4. Peristiwa yang ditemukan tanpa sengaja, yaitu yang muncul dari kejadian yang tidak direncanakan.
            Ada strategi yang menyesuaikan gaya dan meritualkan pembuatan berita menurut pedoman oraganisasi tentang objektivitas : 1. Penyajian kemungkinan yang bertentangan, 2. Penyajian bukti yang mendukung, 3. Kebijaksanaan penggunaan tanda kutip, 4. Penyusunan berita dengan urutan yang tepat, 5. Pelabelan analisis berita.
Pengumpulan berita dan sumber berita mencakup: 1. Pejabat yang dipilih dan ditunjuk dalam posisi pembuat kebijakan, 2. Pejabat yang khusus ditunjuk untuk menangani pers, baik yang ditunjuk dari partai politik maupun pegawai sipil karir. Tiga peran poko peran jurnalis: 1. Perekam (recorder) memainkan peran pengamat yang tidak memihak dan saluran informasi yang netral, 2. Eksperimenter mencoba berbagai pendekatan bagi keahliannya, 3. Penentu (prescriber) menganggap bahwa menentukan pendapat, mengkritik, dan mendukung arah tindakan itu sah.
            Hubungan pemerintah dengan pers, Fred Siebert dan rekannya melukiskan empat teori utama tentang hubungan antara pemerintah dengan pers: 1. Teori autoriter, bahwa kekuasaan pemerintah harus dipusatkan pada satu orang atau elit. 2. Teori libertarian yang berargumentasi bahwa pers harus berjalan dengan cara laissez faire, tidak terkekang, untuk menciptakan pluralisme titik pandang yang memberikan pengujian independen terhadap pemerintah dan semua opini secara bebas dan terbuka. 3. Teori komunis yang melihat pers sebagai alat menyampaikan kebijakan sosial untuk kepentingan ideology dan tujuan yang diwakili oleh partai komunis. 4. Teori pertanggung jawaban sosial yang menerima prinsip pers bebas, tetapi pers yang melaksanakan pelayanan masyarakat melalui kritik sosial dan pendidikan masyarakat yang bertanggung jawab, dengan anggapan bahwa jaminan atas pers bebas adalah jaminan kepada warga negara nasion, bukan yang pada dasarnya merupakan perlindungan atas hak bagi pemilikan bagi pemilikan pers.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar